Latar Belakang

Bermula dari sebuah masalah maka muncullah solusi. Begitu pula dengan awal mulanya Passion Writing Academy. Bermula dari kegelisahan atas sebuah permasalahan yang ada di masyarakat. Pesimis, tidak ada harapan, berdiam diri atau hanya mencaci maki apa yang terjadi. Maka muncullah ide akan solusi atas permasalahan tersebut.

“Jika ada suatu masalah, maka membencinya bukanlah suatu solusi. Sekecil apapun kamu sekarang, mulailah bergerak dan menyusun solusi apa yang kamu berikan atas permasalahan tersebut”

Speak Up! Berbicaralah dan tunjukkan kepada dunia bahwa kamu ada!

Solusi ini awalnya memang menjadi sebuah solusi. Akan tetapi permasalahan baru muncul. Tidak semua orang berani untuk berbicara di muka umum. Tentu hal ini bisa diatasi dengan berbagai cara. Misalkan saja mempelajari public speaking maka keberanian mulai muncul. Tapi apakah semua orang bisa berbicara di muka umum? Jawabannya belum tentu.

Lalu harus bagaimana?

Berbicaralah dan jangan diam!

Ada banyak cara untuk berbicara. Bukan hanya dengan mulut saja.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 
Pramoedya Ananta Toer

Berbicaralah dengan tulisan. Karena berbicara yang dituangkan dalam tulisan adalah bekerja dan berbicara untuk keabadian. Akan tetapi, masalah baru muncul lagi. Tidak semua orang bisa menulis. Benarkah alasan ini?

“Aku tidak punya bakat menulis”

“Aku tidak mengerti tentang sastra”

“Tidak ada hal yang bisa aku tuliskan”

Begitulah alasan-alasan klasik yang akan bermunculan ketika saran untuk berbicara melalui tulisan disampaikan. Tapi alasan tersebut perlahan mulai terbantahkan dengan berbagai kejadian dan pengalaman yang diamati oleh founder Passion Writing Academy.

Rezky Firmansyah, memulai karirnya di kepenulisan sejak 2009. Pada awalnya Rezky tidak menyangka bahwa 2009 adalah titik awal kepenulisannya.  Karena saat itu yang dianggap menulis oleh Rezky adalah menulis puisi, karya sastra ataupun karya ilmiah. Akan tetapi itu semua keliru. Setelah merenungkan kembali titik-titik yang terjadi di masa lalu, ternyata menulis bukanlah serumit itu.

  • Menulis SATU KALIMAT SEDERHANA di buku catatan (2009)
  • Menulis REFLEKSI HARIANdi diari harian (2010)
  • Mengikuti lomba ESSAY “Andai Aku Jadi DPD RI” dan juara 1 se-provinsi Riau (2011)
  • Kontributor di BUKU KOLABORASI yang berjudul ADMIRAL : Generasi, Perjuangan, dan Keajaiban (2012)
  • Menulis BUKU PRIBADI “What Amazing You” (2013)
  • Menjadi KOORDINATOR BUKU KOLABORASI “Aku, Indonesia, dan Masa Depan” (2014)
  • Menjadi MENTOR MENULIS dan mendirikan Passion Writing Academy (2015)

Melihat pengalaman yang dialami oleh dirinya sendiri dan banyak penulis lainnya, ada sebuah persamaan.

Tidak ada yang namanya proses instan. Bahkan kopi dan mie instan pun tidak instan. Ada proses perjalanan. Bagi seorang penulis, latihan merupakan sebuah kewajiban

Proses dan latihan adalah persamaan yang dimiliki oleh setiap menulis. Walaupun proses setiap orang pasti berbeda. Ada yang bermula dari kuliah sastra, komunitas, hobi, atau bahkan keinginan untuk merubah keadaan.

Melihat hal tersebut, Rezky Firmansyah menyusun konsep menulis yang kreatif dan aplikatif. Lalu mendirikan Passion Writing Academy sebagai solusi bahwa menulis adalah berbicara, berkarya, dan menginspirasi dunia.

Advertisements